Dansektor 21 Citarum Harum Tindaklanjuti Laporan Warga Terkait Limbah di Sungai Cimande

  • WARTA
  • -
  • Kamis, 21 Oktober 2021 | 09:47 WIB
211021095504-danse.jpeg

BANDUNG, penabandung.com - Satgas Citarum Harum Sektor 21 akan selalu dan terus melakukan pengawasan terhadap kelestarian lingkungan sungai akibat pencemaran, khususnya dari pencemaran limbah industri.

Ditegaskan Komandan Sektor 21 Kol Arm Nursamsudin, selama ini jajaran di bawahnya yang ada di wilayah subsektor, khususnya Subsektor 01 Rancaekek secara rutin melakukan patroli sungai dan melaporkan secara berkala.

Hal itu diungkapkannya usai menindaklanjuti perintah Pangdam III Siliwangi yang juga sebagai Wakil Komandan II Satgas Citarum Harum (bidang Ekosistem Sungai).

Terkait adanya laporan masyarakat yang menyebutkan ada salah satu industri tekstil di wilayah Rancaekek melakukan pencemaran dengan cara membuang limbah kotor langsung ke aliran sungai Cimande, Lebak, Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Setelah meninjau dan mengecek langsung di lokasi tempat pengambilan video pencemaran dan mengecek dan mengambil beberapa data dari IPAL perusahaan yang disebutkan dalam video laporan warga.

Pihaknya sementara menyimpulkan tidak ada indikasi pembuangan limbah dari PT. Budi Agung yang tidak sesuai baku mutu. "Berdasarkan hasil dari data-data yang ada dan analisa, dan melihat langsung kondisi di lapangan, kurang cukup bukti kalau itu dari PT Budi Agung," tutur Dansektor 21 Kol Arm Nursamsudin, Rabu (20/10/2021).

Ada beberapa catatan yang membuat Satgas Citarum Sektor 21 menyimpulkan tak ditemukannya indikasi PT Budi Agung membuang limbah kotor ke sungai seperti yang dilaporkan warga.

"Yang pertama, si pelapor membuat rekaman video dan dokumentasi lainnya bukan di outfall atau mulut pembuangan IPAL Budi Agung. Melainkan pada lokasi yang jaraknya 700 sampai 900 meter dari outfall PT Budi Agung," kata Kolonel Nursamsudin.

Meski begitu, lanjut Nursamsudin, pihaknya tetap melakukan pengecekan dan mengambil data dari IPAL PT Budi Agung. Dan setelah ditelusuri dan dicek di lapangan, IPAL beroperasi secara normal dan hasil pengolahan sesuai baku mutu ada ikan yang hidup di kolam sebelum pembuangan. Tak ditemukan tanda-tanda membuang limbah kotor.

Berdasarkan video laporan warga tersebut, Kol Arm Nursamsudin menjelaskan kemungkinan fenomena endapan air sungai yang terbawa akibat awal musim penghujan. Karena, kata Kolonel Nursamsudin, berdasarkan laporan jajarannya pada hari yang sama video laporan warga.

"Saat itu di wilayah Rancaekek gerimis, namun hujan turun deras di bagian hulu, Cicalengka dan sekitarnya," terangnya.

"Jadi aliran yang nampak keruh itu seperti limbah, padahal itu bisa diakibatkan dari terbawa nya endapan sungai yang sudah lama di awal musim penghujan," ungkapnya.

Meskipun menyangsikan video laporan warga yang terkesan adanya tuduhan pencemaran yang dilakukan perusahaan, pihaknya tetap menindaklanjuti setiap laporan dari masyarakat, guna menjaga dan mengawal Perpres No 15 Tahun 2018.

Dansektor 21 tetap mengajak masyarakat di semua lapisan untuk aktif secara bersama-sama menjaga kelestarian sungai dari berbagai pencemaran. Namun pihaknya juga mengingatkan agar masyarakat harus bijak dan cerdas dalam menilai dan menyikapi setiap situasi yang ada.

"Yang jelas masyarakat harus bijak dan masyarakat juga harus cerdas dalam menilai dan menyikapi setiap situasi yang ada. Sehingga kita tidak boleh menjustifikasi secara sepihak," pungkasnya.

Sementara, Hayun Basar selaku pimpinan umum PT Budi Agung Sentosa mengaku heran dengan laporan yang menyebutkan perusahaannya membuang limbah cair kotor secara semena-mena. Padahal, kata Hayun, aliran sungai yang ada di video (yang dilaporkan) dialiri tak hanya oleh perusahaannya, namun ada beberapa perusahaan lain.

Namun di dalam video disebutkan hanya PT Budi Agung, itu yang membuat heran. Dengan adanya laporan video tersebut, pihaknya secara tegas menyangkal tuduhan kalau air limbah perusahaannya mengotori sungai seperti yang dituduhkan.

"Karena selama ini, perusahaan Kami selalu senantiasa mengolah air limbah sebelum dibuang. Air limbah diolah di IPAL yang sudah cukup memadai.
Bahkan bisa dibilang luas IPAL kami 1/3 dari luas keseluruhan pabrik yang luasnya 2,7 hektare," ungkap Hayun.

"Air limbah ditreatment sesuai dengan ketentuan, dan air limbah buangan sudah standar baku mutu," imbuhnya.

Selama ini, secara berkala hasil dari pengolahan limbah dilakukan pengecekan oleh dinas Lingkungan Hidup, rutin satu bulan sekali. Tak hanya itu, kami juga siap menerima setiap pemeriksaan yang dilakukan pihak-pihak terkait untuk mengecek hasil olahan limbah.

Hal itu, lanjut Hayun, dilakukan agar supaya air buangan kita tidak membahayakan perairan umum dan tidak ingin melanggar ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah, tandasnya.**

Penulis/Pewarta: Ken Zendra Zanindha
Editor: Ken Zendra Zanindha
©2021 PENABANDUNG.COM

TAGS:
Bagikan melalui:
Komentar
Berita Lainnya
211116055630-fraks.jpg
Fraksi DPRD Sampaikan Pandangan Umum untuk Raperda Retribusi Persetujuan Bangunan Gedung
211116210837-edwin.jpg
Edwin Senjaya Minta Pemerintah Tingkatkan Fasilitas Olahraga
Terkini
Headline
Terbanyak Dibaca
Pena Bandung TV
Populer Bulan Ini