KH Isa Anshary, 'Singa Podium' dan Penulis Tajam Penentang Sekularisme

  • SOSOK
  • -
  • Rabu, 24 Maret 2021 | 10:51 WIB
210324105834-kh-is.jpg

Foto: Istimewa

Alun-alun Nganjuk menjadi saksi sejarah orasi Anshari yang membahana di telinga ribuan massa Masyumi di Nganjuk, Rabu Pahing (31 Agustus 1955) bertepatan 12 Muharam 1375 H.

PENABANDUNG.COM - Peristiwa revolusi besar di dunia senantiasa didahului jejak goresan pena dari seorang penulis hebat. Beliau adalah KH Muhammad Isa Anshary, seorang ulama yang memiliki keahlian berpidato sehingga dijuluki “Singa Podium”, mengaum laksana singa menggetarkan lawan.

Julukan tersebut sangat layak desematkan kepada sang Singa Podium, sebab keahlian dan kefasihan berorasi mampu mengobarkan semangat setiap orang yang mendengarkan orasinya. Kiai Isa, begitu nama panggilannya, memiliki nama lengkap Muhammad Isa Anshary. Ia lahir di Manunjau, Sumatra Barat, pada tanggal 1 Juli 1916.

Selain itu, Anshari juga berperan besar dalam memperjuangkan ideologi Islam di dalam konstelasi politik tanah air. Posisi ideologisnya itu sekaligus menjadi pembendung bagi gerakan komunisme yang cukup kuat berkembang di awal kemerdekaan.

Untuk menyalurkan perjuangan politiknya, Anshari menggunakan kendaraan Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai berhaluan Islam terbesar pada era Orde Lama.

Isa Anshary dan Persis

Masa setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan periode kedua Persis sesudah kepemimpinan KH Zamzam, KH Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Mohammad Natsir yang mendengungkan slogan “Kembali kepada Alquran dan As-Sunnah”. Pada periode kedua ini, salah seorang tokoh Persis yang pernah memimpin adalah KH Mohammad Isa Anshary.

Tampilnya Isa Anshary sebagai pucuk pimpinan Persis dimulai pada 1940 ketika ia menjadi anggota hoofbestuur (Pusat Pimpinan) Persis. Tahun 1948, ia melakukan reorganisasi Persis yang mengalami kevakuman sejak masa pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan. Tahun 1953 hingga 1960, ia terpilih menjadi ketua umum Pusat Pimpinan Persis.

Selain sebagai mubaligh, Isa Anshary juga dikenal sebagai penulis yang tajam. Ia termasuk salah seorang perancang Qanun Asasi Persis yang telah diterima secara bulat oleh Muktamar V Persis (1953) dan disempurnakan pada Muktamar VIII Persis (1967).

Dalam sikap jihadnya, Isa Anshary menganggap perjuangan Persis sungguh vital dan kompleks karena menyangkut berbagai bidang kehidupan umat. Dalam bidang pembinaan kader, Isa Anshary menekankan pentingnya sebuah madrasah, tempat membina kader-kader muda Persis.

Semangatnya dalam hal pembinaan kader tidak pernah padam meskipun ia mendekam dalam tahanan Orde Lama di Madiun. Kepada Yahya Wardi yang menjabat ketua umum Pimpinan Pusat Pemuda Persis periode 1956-1962, Isa Anshary mengirimkan naskah “Renungan 40 Tahun Persatuan Islam” yang ia susun dalam tahanan untuk disebarkan kepada peserta muktamar dalam rangka meningkatkan kesadaran jamaah Persis.

Melalui tulisannya, Isa Anshary mencoba menghidupkan semangat para kadernya dalam usaha mengembangkan serta menyebarkan agama Islam dan perjuangan organisasi Persis. Semangat ini terus ia gelorakan hingga wafatnya pada 2 Syawal 1389 H yang bertepatan dengan 11 Desember 1969. ***

Dari berbagai sumber

Editor: Asep el-Abbas

TAGS:
Bagikan melalui:
Komentar
Berita Lainnya
Terkini
Headline
Terbanyak Dibaca
Pena Bandung TV
Populer Bulan Ini