Terkait Penyerobotan Tanah, Pelapor Penuhi Panggilan Polisi

  • POLKUM
  • -
  • Selasa, 4 Mei 2021 | 13:06 WIB
210504131002-terka.png

Foto: Istimewa

Muhamad Jam’u S.Ag, SH (kanan) saat memberi keterangan di depan penyidik.

PENABANDUNG.COM - Sabtu (01/05), Muhamad Jam’u S.Ag, SH kuasa pendamping ahli waris H. Aping (alm) sebagai pelapor, memenuhi panggilan Polresta Tasikmalaya untuk dimintai keterangan atas tindak lanjut laporan pengaduan (Lapdu) tertanggal 30 November 2020 adanya dugaan tindak pidana penyerobotan tanah, pemalsuan dan penggelapan atas asset milik H. Aping.

Didepan penyidik, Aiptu Ateng Jaelani, Jam’u yang saat itu didampingi Pena Bandung membeberkan peristiwa serta dokumen yang diduga fiktif yang digunakan para pelaku dalam menghabisi seluruh asset milik H. Aping.

Dalam keterangannya di depan penyidik, Jam’u menyebut beberapa nama yang diduga sebagai pelaku tindak pidana penyerobotan dan pemalsuan dokumen terkait aset tanah milik H. Aping.

Dijelaskan Jam’u, dokumen yang diduga fiktif tersebut diantaranya adalah, Kartu Keluarga (KK) yang dikeluarkan Disduk Ciebon, dua buah kuitansi dan APPHB (Akta Pemisahan Pembagian Hak Bersama) bernomor 304/Chd/1997 yang diterbitkan Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, dimana dalam kuitansi dan APPHB tersebut membubuhkan nama dan tandatangan Cucu, salah satu ahli waris H. Aping yang seolah-olah semua itu atas pengetahuan dan persetujuan Cucu.

“Padahal baik kuiitansi maupun APPHAB, Cucu tidak mengetahuinya sama sekali. Jangankan menandatanganinya, menginjakan kakinya saja ke kantor kecamatan bu Cucu belum pernah sama sekali,” tandas Jam’u.

Sementara itu, Cucu, Salah satu dari dua saudara kandungnya yakni Eddi (alm) dan Oce (alm) anak dari hasil pernikahan resmi H. Aping dengan istri pertamanya Asih alias Kalsih, dengan didampingi anaknya H. Ena Permana, kepada Pena Bandung di rumahnya menjelaskan bahwa semasa hidupnya, H. Aping memiliki aset berupa tanah sawah, darat, kurang lebih dua hektare, serta beberapa bangunan rumah di wilayah Kecamatan Cisayong dan Kecamatan Cihideung, juga beberapa buah jongko di Pasar Cikurubuk, Dua unit kendaraan roda empat, perhiasan berlian dan emas kurang lebih 2,5 Kg.

Semua itu habis dibagi-bagi oleh orang-orang yang mengaku ahli waris Maryam, isteri siri H. Aping. Padahal, dari pernikahan siri Siti Maryam dengan H. Aping tidak memiliki keturunan.

Disinggung soal pencatutan nama dan tandatangan di kuitansi dan APPHB, dengan tegas Cucu membantah, bahwa dirinya tidak tahu menahu.

"Saya tidak penah tahu adanya kuitansi dan APPHB tersebut. Jangankan menandatangani, tahu saja tidak. Lagian dari sejak kecil sampai sekarang belum pernah saya menginjakan kaki ke kecamatan itu. Kecuali sewaktu saat mengklarifikasi APPHB dimaksud,” jelas Cucu.

Jam’u berharap, pihak kepolisian dapat segera mengungkap dan menggiring semua para pelaku yang terlibat dalam kasus ini.

"Sebagaimana instruksi presiden dan perintah, Kapolri untuk memberangus mafia tanah yang merugikan masyarakat sebagai pemilik yang sah. Dimana dalam penegakan hukum, pihak APH (Aparat Penegak Hukum) tidak pandang bulu menindak siapapun pemain di belakang para mafia tanah," tutur Jam’u.***

Penulis/Pewarta: Guyu
Editor: Asep el-Abbas
©2021 PENABANDUNG.COM

TAGS:
Bagikan melalui:
Komentar
Berita Lainnya
210613214741-tanah.jpg
Tanah Diklaim Pihak Lain, Penggugat Berharap Keadilan
210610093303-plt-k.jpg
Plt Kades: Semoga Pilkades di Desa Cipagalo Berjalan Lancar
210525112838-buntu.jpg
Buntut Sikap Puan, Pengamat: Ganjar Bisa Menang Diusung Parpol Lain
210607214105-rapat.jpg
Rapat Kerja dengan Pemkot, Bapemperda Bahas Persiapan Raperda Cawu II 2021
210623164459-furko.jpg
Furkon Siap Bertarung pada Pilkades Serentak Desa Cipagalo 2021
Terkini
Headline
Terbanyak Dibaca
Pena Bandung TV
Populer Bulan Ini