Bisakah Membatasi Usia Pernikahan demi Mencegah Stunting

  • LITERASI
  • -
  • Kamis, 12 Agustus 2021 | 11:29 WIB
210812113249-bisak.png

Oleh Yuyun Suminah, A. Md*

Pernikahan adalah salah satu syariat Islam yang Allah dan Rasulnya perintahkan, tujuannya demi menundukan pandangan antara laki-laki dan perempuan bahkan disebutkan sebagai penyempurna setengah dien. Menjadikan halal dan berpahala aktivitas kasih sayang dua insan tersebut selama sesuai syariatNya. Maka akan diraih keluarga yang sakinah (tenang/tentram) mawadah (cinta kasih) warohmah (kasih sayang) dalam menjalani rumah tangga.

Namun apa jadinya ketika sebuah pernikahan menjadi salah satu penyebab lahirnya bayi-bayi stunting. Seperti dalam peringatan hari anak nasional Bupati Garut Jawa Barat Rudy Gunawan, mengajak seluruh stakeholder untuk memaknai hari anak dengan membuat perencanaan dan perlindungan yang harus diaplikasikan secara konkret, agar anak di Kabupaten Garut bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.

Ia menuturkan untuk mendapatkan anak yang sehat diharuskan adanya pengaturan perkawinan yang akan menghasilan sebuah perkawinan yang terukur dan perkawinan yang terencana. Oleh karenya Bupati berharap, dengan adanya pengaturan perkawinan ini tidak ada lagi bayi-bayi stunting tidak sehat, kurang gizi dan lainnya. (jabarprov.go.id 04/08/21)

Melalui program Stop Kabur (Strategi Terpadu Optimalisasi Pencegahan Kawin Anak Bawah Umur) dengan program tersebut berharap bisa mencegah stunting namun apakah efektif. Jika ada yang melakukan pernikahan di bawah usia yang telah ditetepkan maka disebut pernikahan dini.

Memaknai sebuah pernikahan sendiri lebih ke standar usia ternyata aturan yang dibuat oleh akal manusia tersebut buah dari sistem kapitalisme. Sebuah sistem yang mengatur aspek kehidupan dengan landasan memisahkan agama dari kehidupan. Maka wajar dalam sistem kapitalisme aturan kehidupan termasuk mengatur usia pernikahan pun yang menentukan baik buruknya ditentukan oleh manusia yang mempunyai keterbatasan dalam menyelesaikan masalah.

Miris dengan fakta hari ini dimana pernikahan yang telah Allah halalkan justru dicegah, kenapa tidak menyoalkan pergaulan bebas anak muda yang jelas-jelas itu haram yang mengakibatkan sex bebas, hamil diluar nikah, aborsi dan kemaksiatan lainnya. Itu semua akibat dari sistem sosial yang kotor dalam kapitalisme. Jadi intinya dalam Islam perkara apapun kita mendudukkan semua sesuai dengan hukum syara, jangan sampai mengharamkan yang Allah halalkan dan sebaliknya. Perkaranya Islam bukan mendukung pernikahan dini, tapi ada kekeliruan dalam melihat akar permasalahannya.

Masalah stunting adalah efek dari tidak terwujudnya kesejahteraan rakyat. Jauh berbeda dalam sistem Islam sistem yang tidak hanya mengatur perkara ibadah saja, namun perkara aturan kehidupan seperti pendidikan, kesehatan dan lainnya termasuk bagaimana Islam mengatasi stunting semua ada aturannya. Stanting adalah suatu kondisi tubuh tidak normal yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi. Dalam Islam semua kebutuhan rakyat menjadi tanggungjawab negara maka negara akan mencukupi kebutuhan pokok setiap keluarga.

"Pemimpin adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)

Dengan demikian pembatasan usia pernikahan bukan penyebab stunting, yang jadi masalah bukan pernikahannya tapi seberapa besar negara berperan dalam memenuhi gizi rakyat. Adapun faktor penyebab stunting diantaranya pertama pendidikan, pendidikan rakyat terutama orangtua akan mempengaruhi tingkat pengetahuan tentang seberapa penting gizi dalam memenuhi kebutuhan seorang anak. Hanya sebagain rakyat yang bisa menjangkau pendidikan maka wajar hanya orang-orang tertentu saja yang faham akan pentingnya gizi.

Kedua ekonomi, faktor ekonomi menjadi hal yang paling banyak dialamai oleh rakyat terutama orangtua yang berpenghasilan minim sehingga orangtua kesulitan untuk mencukupi kebutuhan gizi anak. Ditambah dengan mahalnya bahan pokok menambah beban tersendiri bagi rakyat kecil. Alhasil, masalah stunting tidak akan selesai jika masalah ekonominya belum dituntaskan.

Dalam sistem Islam ekonomi yang dijalankan berbasis syariah dengan konsep baitulmal. Dari sana segala sumber pemasukan dikelola. Banyak pemasukan sumber dana yang diperoleh seperti fai, kharaj, ghonimah dan harta milik umum yaitu sumber daya Alam. Segala SDA seperti hasil bumi, lautan, tambang dan lainnya diatur dan kelola langsung oleh negara. Sehingga hasil dari sumber dana tersebut sepenuhnya dirasakan oleh rakyat baik umat muslim maupun nonmuslim.

Sehingga hanya ekonomi Islam yang mampu menjamin kesejahteraan rakyat untuk memenuhi kebutuhan pokok dan mencukupi gizi seorang anak. Ditambah dengan akses pendidikan yang mudah maka masalah stunting akan terselesaikan. Wallahua'lam.***

*) Penulis adalah guru di Karawang, Jawa Barat

TAGS:
Bagikan melalui:
Komentar
Berita Lainnya
Terkini
Headline
Terbanyak Dibaca
Pena Bandung TV
Populer Bulan Ini