Jika Anak tidak Masuk Sekolah Favorit

  • LITERASI
  • -
  • Kamis, 10 Juni 2021 | 00:48 WIB
210610005847-jika-.jpg

Foto: pixabay/gentinabdanurendra

Permainan dam-daman

Oleh Muhamad Basuki*

Tidak usah sedih jika anak __apalagi anak usia dini, tidak bisa bersekolah di tempat favorit, fasilitas lengkap, biaya selangit, dan lain-lain.

Jika dilihat dari kelengkapan bermain, atau program studi tur, sebenarnya, perbedaan antara sekolah mahal dan sekolah murah ternyata tidak signifikan. Lebih kepada menang gengsi doang.

Apalagi yang 'dijagokan' sekolah favorit itu studi tur ke alam bebas atau sekolah berbasis alam, karena sekolah murah di pinggiran kota atau di kampung memang sudah di alam bebas, tiap hari lihat kebun, ayam, bebek, kambing.

Saya dapat ilmu dari istri saya, katanya, bahwa anak itu memiliki sifat bawaan untuk bermain. Jadi nggak usah risau kalau di sekolah atau di rumah kurang miliki koleksi mainan.

Ketika saya kecil dulu, di kampung, kaki gunung Sadakeling, Garut, apapun yang ada di alam bisa dijadikan mainan.

Dengan hanya berbekal silet atau pisau dapur misalnya, kami di kampung dulu biasa membuat terompet dari batang padi untuk terompet 'empet-empetan'.

Untuk menghasilkan suara yang lebih nyaring, terompet kami kombinasikan dengan daun kelapa yang susun sedemikian rupa seperti kerucut lalu disambung dengan empet-empetan tadi. Dan jadilah terompet dengan suara yang lebih nyaring. Dan yang penting, itu sudah cukup membahagiakan kami.

Alat untuk bermain itu banyak sekali, batu buat 'sorodot gaplok', daun singkong untuk 'wawayangan', karet gelang dan bunga rumput dijadikan 'ngadu domba', ngurek di sawah, nyair di walungan, dan masih banyak sekali.

Menurut informasi, mayoritas anak-anak sekarang sudah ketagihan gadget terutama telpon pintar. Jika dibiarkan, hal itu sangat berbahaya, terutama dalam hubungan sosial antar anak dan atau anak-ortu, dan anak-guru.

Anak saya itu di rumah, apa pun dibuat mainan. Kadang perkakas dan peralatan ayahnya dibuat mainan. Walaupun kadang mengesalkan, tapi ketika ingat bahwa itu dunianya dia, saya hanya tersenyum.

"Emas itu, walaupun ditaro di tempat sampah tetaplah emas," demikian kata sang Bijak.

Artinya, tidak usah menjadi sedih dan kecewa jika anak kita tidak bisa sekolah di tempat mahal. Kalau dia emas akan tetap menjadi emas.

Tapi jika biaya bukan jadi masalah, tempat favorit memang memiliki nilai lebih. Jadi sekolahkan anak kita di tempat tersebut agar dia memperoleh hasil yang mudah-mudahan lebih baik.***

*) Penulis adalah Ketua Komunitas Pena Bandung

TAGS:
Bagikan melalui:
Komentar
Berita Lainnya
210529155806-surat.jpg
Surat-surat Islam dari Ende, Korespondensi Soekarno-Hassan Bandung (Bagian II)
210529143032-surat.jpg
Surat-surat Islam dari Ende, Korespondensi Soekarno-Hassan Bandung (Bagian I)
210610102413-surat.jpg
Surat-surat Islam dari Endeh, Korespondensi Soekarno-Hassan Bandung (Bagian III)
210609224759-benar.jpg
Benarkah Ada Dugaan Praktik Monopoli dan Kartel dalam Pengadaan Perangkat IT di Disdik KBB?
Terkini
Headline
Terbanyak Dibaca
Pena Bandung TV
Populer Bulan Ini