Ruwaibidhah Kekinian dan Kedisinian

  • LITERASI
  • -
  • Jumat, 5 Maret 2021 | 19:10 WIB
210305192018-ruwai.png

IST

Oleh Nandang Burhanudin *)

"Jadi apakah Anda berdiri bersama kami atau melawan kami!" (Bush Jr)

Tahun 2002-2003, sepulang dari Kairo saya diterima bekerja di Pustaka Al-Kautsar sebagai editor. Saya manfaatkan pulang bekerja untuk mengambil S2 di PKTII UI Salemba dan tuntas dalam waktu 18 bulan.

Sebagai editor, ada buku monumental yang saya sunting. Judul aslinya Al-Bidayah wa An-Nihayah Imam Ibnu Katsir Lalu terjemah Indonesia menjadi Huru Hara Hari Kiamat. Buku yang kemudian sangat laris.

Ada satu hadis yang hingga kini saya hapalkan. Hadis riwayat Ibn Majah dari Abu Hurairah, Baginda bersabda, "Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara." Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas." (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Tahun-tahun itu, saya mengalami 3 pristiwa besar: Pertemuan terakhir dengan Presiden Soeharto di Kairo hingga beliau lengser; Tragedi 9/11/01 di New York; Invasi AS ke Irak dan Afghanistan. Rentang waktu yang teramat cepat dengan teknologi GSM dan belum 4.0.

Saya pikir, Indonesia akan menjadi negara hebat dengan Demokrasi Pancasila yang menjunjung tinggi keadilan, kejujuran, kesejahteraan dan menghargai Islam dengan ribuan Perda Syariah di banyak provinsi. Para pejabat yang tampil sangat intelek, teduh, dan menjunjung integritas.

Seingat saya Menlu dipegang Pak Hasan Wirajuda, mantan Dubes Mesir. Mendagri, Kejagung, Kapolri dan Menhan waktu itu, Orang-orang hebat.

Tak lama kemudian, kampus-kampus marak diskusi Khilafah, Indonesia Bersyariah, Negara Islam Indonesia, namun berujung pada penilaian negatif terhadap Pancasila, anti Demokrasi dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai tone lawannya, paham Liberal Sekuler pun bertalu-talu mengisi ruang diskusi di media mainstream.

Saya termasuk yang rajin mengisi di kampus, mulai ITB, UNPAD, STPDN, STT Telkom, UI, Unisba, menjadi jembatan ide Tidak ekstrim kanan ala HTI-NII. Tidak juga ekstrim kiri ala JIL-JIN. Puncak tragedi pun dimulai. KPU menjadi target pertama. Lalu partai-partai penguasa digerudug kasus korupsi.

Puncak tragedi berlanjut dengan munculnya Ruwaibidhah, buzzer-buzzer dan pejabat yang mengurusi urusan publik bukan oleh ahlinya. Lalu terjadilah apa yang terjadi: Koruptor dininabobokan, ulama dihabisi, oposisi dibingkam, kardus digembok, dan kini anak-anak muda yang dibunuh menjadi tersangka.

Imajinasi Indonesia hebat pun sirna. Bisa jadi jika menyampaikan hadis di atas, kini kena pasal Hate Speech. ***

*) Penulis adalah Direktur Pendidikan Insan Teladan

TAGS:
Bagikan melalui:
Komentar
Berita Lainnya
210329161845-indon.jpg
Indonesia Menuju Distopia
210325110427-menge.png
Mengenang Kembali Peristiwa Bandung Lautan Api
210401204540-kenal.jpg
Kenali Istilah Serigala Penyendiri yang Sedang Trending Saat ini
210318145815-rahas.jpg
Tips Agar Tanaman Buah dalam Pot Subur dan Berbuah Lebat
Terkini
Headline
Terbanyak Dibaca
Pena Bandung TV
Populer Bulan Ini