Siaga Bencana Banjir dan Longsor

  • LITERASI
  • -
  • Jumat, 2 Desember 2022 | 13:11 WIB
221202131411-siaga.jpg

Foto: ist

Ilustrasi bencana alam

Oleh Fitriani Nurkamalah, S.Pd

Lima kabupaten dan kota di Jawa Barat masuk level siaga bencana banjir dan longsor dampak dari hujan lebat hingga hujan ekstrim. Hal ini sebagaimana dalam rilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat terkait dampak hujan di Jawa Barat. Prakiraan dampak hujan lebat wilayah Jawa Barat yang dirilis BMKG pusat tersebut berlaku hari ini (Jumat, 25 November 2022). Oleh sebab itu BMKG pusat mengimbau masyarakat Jawa Barat, khususnya di 5 kabupaten dan kota berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah.

PURWASUKA

Berikut kabupaten dan kota yang berpotensi dilanda bencana dampak dari hujan lebat diantaranya:

Level Siaga
1. Kota Bandung
2. Kota Cimahi
3. Kabupaten Bandung
4. Kabupaten Cianjur
5. Kabupaten Pangandaran

Gubernur Jawa Barat telah menginstruksikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah untuk siaga menghadapi banjir dan longsor. Emil, sapaannya mengatakan, status siaga diperlukan mengingat Jabar merupakan provinsi yang rawan bencana alam.

Khusus mencegah banjir, dia meminta masyarakat disiplin dalam membuang sampah. Selain itu, upaya pemprov Jabar untuk mengantisipasi banjir dan longsor yaitu dengan melakukan penghijauan di lahan kritis. Selama 3 tahun, telah ditanam sebanyak 55 juta pohon. Namun, faktanya bencana alam masih tetap terjadi, menelan korban dan kerusakan lingkungan yang cukup besar.

Ketika potensi bencana di suatu wilayah sudah bisa diprediksi, dikarenakan posisi dan kondisi wilayah yang memang rawan, maka sudah seharusnya seluruh elemen mengantisipasinya, terutama pemerintah. Kurangnya daerah resapan air karena minimnya pepohonan penyangga air, kapasitas aliran air yang masih kurang, kapasitas parkir air juga kurang, dan lain-lain, saling berkaitan menjadi penyebab bencana dan hal ini membutuhkan tata kelola wilayah yang baik dan terintegrasi.

Sistem pengelolaan sumber daya alam, termasuk dalam tata kelola wilayah, saat ini dilakukan dengan menerapkan aturan Kapitalisme Sekuler, tentu asas yang ingin dicapai adalah keuntungan yang bersifat materi (keuntungan). Hal ini sejalan dengan banjirnya tawaran bagi para investor untuk meraup keuntungan.

Sistem tata kelola wilayah yang berasaskan Kapitalisme Sekuler memastikan pengelolaannya jauh dari standar ketentuan Sang Maha Pencipta alam. Pengabaian terhadap syariat menjadi penyebab terbesar terjadinya bencana alam yang tidak semata-mata faktor alam.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaha: 124).

Pandangan Islam Terhadap Allah SWT telah menciptakan alam semesta dan isinya dengan sempurna beserta aturan yang menjamin kemaslahatan bagi makhluk-Nya. Tata kelola alam yang sesuai dengan aturan dari Sang Pencipta, pasti akan membawa keberkahan, kemaslahatan bukan musibah atau bencana.

Penanganan bencana dalam Islam lebih bersifat preventif yaitu dengan menjadikan alam dan lingkungan sebagai amanah dari Allah SWT yang harus dijaga, dikelola dengan aturan Islam. Hal ini akan meminimalisir terjadinya bencana yang diakibatkan tangan manusia yang serakah.

Sehingga, jikapun setelahnya tetap terjadi bencana, maka sikap seorang mukmin adalah muhasabah atau instropeksi atas segala kemaksiatan yang pernah dilakukan dan bertaubat. Lalu bersabar menerima takdir Allah SWT sambil terus berusaha untuk menyelesaikan problematika yang dihadapinya. Hanya dengan penerapan syariat Islam secara kaffah, alam akan memberikan keberkahan atas izin Allah SWT. Allahu a’alam.***

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.
TAGS:
Bagikan melalui:
Komentar
Berita Lainnya
Terkini
Headline
Terbanyak Dibaca
Pena Bandung TV
Populer Bulan Ini