Perubahan Syarat Masuk PTN: Penurunan Kualitas Mahasiswa PTN?

  • LITERASI
  • -
  • Senin, 17 Oktober 2022 | 21:34 WIB
221017213802-perub.png

Foto: Ilustrasi

Oleh Irni Irhamnia*

Mengherankan, mungkin itulah kata pertama yang terucap. Adalah Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, yang mengumumkan akan mengubah sistem penenerimaan mahasiswa baru melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Dimana pemerintah berencana akan menghapus tes mata pelajaran atau tes kemampuan akademik (TKA) di SBMPTN. (www.bbc.com). Menggantinya dengan tes skolastik yang menekankan pada kemampuan bernalar dan berpikir kritis. (www.hello.com/jawapos)

Sekolah tingkat tinggi yang seharusnya menjadi sarana gambaran dan aplikasi hasil pendidikan akademis tingkat lanjutan melalui TKA dalam SBMPTN, sepertinya malah akan menjadi tempat yang "berbeda", alih alih mencetak para intelektual yang lebih baik yang nantinya akan menjadi generasi baru pemimpin, pengusaha politikus dan juga pendidik. Perubahan syarat ini justru akan berdampak pada kualitas input mahasiswa PTN. Sebab dengan pembelajaran berbasis kampus merdeka, bisa dibayangkan bahwa output PTN makin jauh dari kualitas mumpuni sebabagai intelektual muda. Saat masih ada TKA saja, masih banyak sekali penyimpangan dalam penerimaan mahasiswa baru di setiap tahunnya. Apalah lagi jika hal itu tidak ada lagi, bagaimana para calon mahasiswa ini akan terseleksi secara baik jika TKA dihapuskan?

Menurutnya, langkah perubahan SBMPTN dilakukan, karena materi TKA dalam SBMPTN dirasa sangat membebani peserta didik maupun guru. Dimana ujian dilakukan dengan menggunakan banyak materi dari banyak mata pelajaran yang secara tidak langsung memicu turunnya kualitas pembelajaran. Selain itu, banyak siswa yang harus melakukan bimbingan belajar (bimbel) di luar sekolah (infopublic.id).

Demikianlah, semua dikarenakan sistem pendidikan yang tidak berdasarkan Islam. Dimana kurikulum pendidikan berbasis pada sekularisme ini memaksa para pelajar menerima berbagai mapel yang disadari membebani pelajar dan juga guru, namun minim manfaat dan tak seiring dengan pendidikan keagamaan, dalam hal ini Islam. Pendidikan agama hanya sebagai pelengkap ilmu pengetahuan saja, seperti bahasa arab dan pengajaran sholat dan ibadah ritual lainnya yang cenderung tidah berimpact pada kehidupan para pelajar. Bisa dipastikan jika semakin hari semakin nyata penurunan kualitas mahasiswa.

Dalam sistem sekuler kapitalisme, pendidikan hanya dijadikan jalan untuk meraih materi sebanyak banyaknya yang menyiapkan para pelajar menjadi pekerja, sementara aspek keagamaan dijadikan sebagai ranah individu semata. Sehingga teknis penerimaan mahasiswa baru pun akan senantiasa ditujukan untuk tujuan siap kerja itu. Namun, bahkan untuk tujuan itu saja, tak kan cukup hanya pada perubahan teknis penerimaan mahasiswa baru saja, melainkan merubah seluruh sistem pendidikan yang ada hari ini dari akarnya yaitu sistem kehidupan.

Islam, sebagai agama yang sempurna aturannya, mampu memberikan pengaturan dalam segala aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan. Dalam Islam, setiap orang akan mendapatkan pendidikan yang lebih manusiawi dan bahkan tak membutuhkan banyak waktu untuk mencetak pelajar yang sesuai dengan kebutuhan kemaslahatan dalam kehidupan. Sehingga dalam seleksi masuk universitas, pendidikan dasar diperhatikan dan disesuaikan dengan kemampuan utama pelajarnya. Maka, bukan hanya tes akademik yang dilakukan namun dilihat dalam bidang apa pelajar itu menguasai mapel yang ditandai dengan nilai tertinggi dalam mapel tertentu itu sendiri. Sehingga sesuai dengan jurusan yang dipilihnya tanpa mengkhawatirkan kuota jurusan pilihannya. Selanjutnya metode pengajarannya pun bukan sekedar bersifat transfer informasi namun juga mentransfer pemikiran termasuk pemikiran Islami. Dari sinilah universitas mampu mencetak para lulusan mahasiswa yang kemampuannya bisa ditempatkan pada berbagai bidang seiring yang dengan ketakwaan individunya. Mencegah turunnya kualitas mahasiswa dan menjadikan mahasiswa generasi yang benar-benar dibutuhkan umat, memudahkan umat, terutama kaum muslim, dalam beribadah kepada Allah swt.
Dan kondisi ini akan bisa terlaksana hanya dalam negara yang menerapkan Islam sebagai sistem dan asas dalam aturan hidup manusia seluruhnya.

Wallahua'lam bishshowab

Irni Azarine <irniaz06@gmail.com>

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.
TAGS:
Bagikan melalui:
Komentar
Berita Lainnya
Terkini
Headline
Terbanyak Dibaca
Pena Bandung TV
Populer Bulan Ini