Telur Meroket, Rakyat Tak Berdaya

  • LITERASI
  • -
  • Sabtu, 3 September 2022 | 12:57 WIB
220903130127-telur.jpg

Foto: hellosehat

Oleh Citra Ningrum*

Telur..telur..telur...!

Bahan pangan yang disegani banyak orang. Hasil olahannya pun banyak, seperti telur gulung, salah satunya. Dan sangat dibutuhkan bagi kalangan pembuat kue ataupun bolu. Sebagai bahan pengembangnya.

Sayangnya, telur ini sedang diperbincangkan banyak orang. Karena harganya yang tak terkendali di pasaran. Ini sudah terjadi beberapa pekan. Seperti yang terjadi di Pasar Baru Kuningan, para pedagang tidak menyediakan stok telur dalam jumlah banyak. Bahkan ada yang sampai tidak berjualan dulu.

Harga telur memang naik hingga Rp10.000/kg. Kisaran antara Rp31.500 hingga Rp32.000/kg, bahkan ada di warung mencapai Rp33.000/kg. Alhasil banyak masyarakat yang mengeluh, dan berpikir untuk membeli telur yang retak atau pecah, sebagai solusi untuk mendapatkan harga rendah.

Faktor pemicu kenaikan harga telur salah satunya harga pakan yang naik. Menurut Kepala Dinas Koperasi Perdagangan dan Perindustrian (Diskopdagperin) Kabupaten Kuningan Uu Kusmana fluktuasi harga telur sedang dalam pantauan di lapangan. Beliau menganalisis disebabkan dua faktor. Faktor pertama, karena harga pakan dan biaya operasional yang tinggi. Faktor kedua, adanya permintaan dari pemerintah untuk pemenuhan program PKH yang segera digulirkan. (Radarkuningan, 24/08/2022).

Akibatnya, baik pedagang maupun pembeli terkena dampaknya. Terutama pelaku UMKM yang menggunakan telur sebagai salah satu bahannya, tentu harus berpikir keras agar tetap berproduksi. Bisa dengan menaikkan harga produknya atau mengecilkan produknya tetapi harga tetap. Dilema pun terjadi.

Aturan yang Semerawut

Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Indonesia (PPRN) Alvino Antonio menyatakan, harga telur mulai naik pada sejak 10 Agustus 2022 lalu. Penyebabnya adanya permintaan telur untuk paket bantuan sosial (bansos). Seperti diketahui, masih ada dua bansos yang akan dicairkan hingga akhir Agustus yakni Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) tahap 3.

Sehingga produksi telur di peternak menurun drastis. Bahkan ada yang menimbun telur-telurnya, sampai harga di pasaran stabil. Walhasil, masyarakat terbebani dengan harga yang terus melejit dari hari ke hari.

Menurut pengamat kebijakan publik, Emilda Tanjung, M.Si. mengatakan kenaikan harga telur sudah terjadi sejak Februari lalu disebabkan populasi ayam di kandang para peternak yang menurun drastis. Ditambah biaya produksi, terutama harga pakan dan DOC yang melambung. Akhirnya, mau tidak mau para peternak harus menaikkan harga jualnya.

Disinilah para peternak akan mengalami kerugian, meskipun harga telur naik, tidak serta merta mereka bahagia. Tetapi yang diuntungkan adalah para pengusaha (pemilik modalnya), karena menguasai rantai peternakan dari hulu sampai ke hilir. Akhirnya, peternak skala kecil pun kalah, karena tidak mampu bersaing dan berakhir dengan gulung tikar.

Terlebih lagi, pemerintah tidak bertindak tegas atas kejadian ini. Pemerintah hanya mengevaluasi atau memberikan bantuan saja, tetapi tidak segera menstabilkan harga telur. Buktinya hanya hadir sebagai regulator dan fasilitator bagi masuknya perusahaan-perusahaan besar ke dalam negeri.

Ditambah lagi, pemerintah tidak serius untuk mewujudkan kedaulatan pangan, termasuk untuk pemenuhan bahan pakan secara mandiri. Walhasil masih memerlukan impor pakan dari luar.

Pengelolaan dalam Islam

Islam akan memberikan solusi terbaik untuk kesejahteraan siapapun. Aturannya datang tidak hanya untuk umat Muslim, tetapi untuk seluruh umat manusia. Sehingga, ketika ada permasalahan, Islam akan hadir sesuai dengan syariat-Nya.

Islam memberikan tanggung jawab harus berada di tangan negara (penguasa), karena penguasa bertugas menjadi pengurus bagi rakyatnya. Yaitu menjamin agar sarana produksi peternakan bisa didapatkan dengan mudah dan harga yang terjangkau. Bahkan bisa menggratiskan untuk para peternak yang tidak mampu.

Selain itu, penguasa akan membangun infrastruktur yang mendukung usaha peternakan, tanpa unsur komersialisasi sehingga para peternak akan mudah mengangkut produk-produk tanpa terbebani biaya angkut. Dengan memperhatikan keseimbangan suplai dan demand (penawaran dan permintaan).

Hasilnya, peternak bisa mendapatkan kesejahteraan dari usaha yang dijalankan. Masyarakat pun akan bisa mendapatkan harga bahan pangan yang lebih terjangkau. Wallahu'alam bishsawab.

*) Penulis adalah Pegiat Literasi tinggal di Kuningan

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.
TAGS:
Bagikan melalui:
Komentar
Berita Lainnya
Terkini
Headline
Terbanyak Dibaca
Pena Bandung TV
Populer Bulan Ini