Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok

  • LITERASI
  • -
  • Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB
220805144406-kenai.jpg

Foto: TravelSuttle.com

Oleh Fitriani Nurkamalah, S.Pd

Terpantau harga pangan terus merangkak naik, adapun barang komoditas yang paling melonjak itu salah satunya cabai rawit. Seperti di Sentra Pertanian Lembang, Kabupaten Bandung, harga cabai kini mencapai Rp120.000 perkilogram. Kenaikan harga tersebut sudah terjadi sebelum Hari Raya Idul Adha. Dari situs sibapokting.bandungkab.co.id harga cabai rawit merah saat ini Rp 90 ribu per kilo, cabai merah TW dengan harga Rp 110 ribu, cabai merah keriting Rp 100 ribu per kilo, sementara cabai merah tanjung bisa mencapai Rp 120 ribu per kilo. Begitupun dengan harga bawang merah mencapai Rp 80-85 ribu/kilogram (kg) dan bawang putih Rp 40-45 ribu/kg. Padahal Juni lalu harga bawang merah dan bawang putih hanya berkisar rp 35-38 ribu.

Perubahan iklim yang terjadi di wilayah tropis tidak selalu menguntungkan. Apalagi ketika cuaca yang tidak mendukung para petani menjadikan masalah gagal panen bisa saja terjadi. Terlebih dampak buruk dari cuaca menjadikan petani kesusahan dalam hal membudidayakan tanamannya. Cuaca ekstrim bisa mengakibatkan tanaman tidak tumbuh dengan baik dan gampang terserang penyakit.

Seolah masih belum cukup dipusingkan dengan harga minyak yang mahal. Kini beban masyarakat kian berat. Bahkan, untuk sekedar menyajikan sepiring nasi goreng saat sarapan saja terasa sulit seiring melejitnya harga bawang merah. Meski, masalah diatas dipengaruhi oleh cuaca bukan berarti penguasa membiarkan begitu saja rakyat tercekik dengan harga yang meroket ini. Negara hendaknya hadir memberikan solusi untuk meredam gejolak harga yang tak terkendali.

Seyogianya, pemerintah bijak dalam mengatasi problem gagal panen tersebut. Bukan malah pasrah menyalahkan alam. Justru hal ini sebagai muhasabah dan mulai berubah mencari solusi bersama demi kemaslahatan para petani. Ketidakbijaksanaan pemerintah dalam mengelola harga kebutuhan pokok yang kerap naik hingga menjadi tradisi tahunan membuktikan bahwa lepas tanggungjawab untuk memuliakan rakyat. Tentu semua itu terjadi akibat fokusnya pemerintah memprioritaskan para kapitalis (pemilik modal).

Lain halnya dalam Islam. Jika melambungnya harga karena faktor “alami” yang menyebabkan kelangkaan barang, maka di samping umat dituntut bersabar, Islam juga mewajibkan negara untuk mengatasi kelangkaan tersebut dengan mencari suplai dari daerah lain. Jika seluruh wilayah dalam negeri keadaannya sama, maka bisa diselesaikan dengan kebijakan impor dengan masih memperhatikan produk dalam negeri.

 Namun jika melambungnya harga disebabkan pelanggaran terhadap hukum-hukum syariah, maka penguasa harus mengatasi agar hal tersebut tidak terjadi. Rasulullah SAW sampai turun sendiri ke pasar untuk melakukan ‘inspeksi’ agar tidak terjadi ghabn (penipuan harga) maupun tadlis (penipuan barang/alat tukar), beliau juga melarang penimbunan (ihtikar).

Adapun dalam hal tata kelola pangan, Islam telah menjamin ketersediaan dan keterjangkauan kebutuhan pangan bagi tiap individu melalui penetapan aturan tata kelola pangan dalam Islam. Islam juga mewajibkan penguasa untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan lainnya bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan. Islam juga telah menetapkan aturan terkait penggunaan lahan pertanian sehingga tidak akan terjadi alih fungsi lahan yang dapat menyempitkan lahan produksi pertanian. Kemandirian dalam memproduksi hasil pangan adalah hal yang penting, meski impor tidak menjadi hal yang diharamkan jika memang diperlukan dan tidak membahayakan kedaulatan negara.

Selain itu, masalah distribusi juga merupakan hal penting untuk mencegah kelangkaan produk yang dapat memicu terjadinya kenaikan harga pangan. Adapun kebijakan pengendalian supply (penawaran) dan demand (permintaan) dilakukan untuk mengendalikan harga. Hal ini dibantu dengan selalu mengupayakan ketersediaan stok cadangan untuk mengantisipasi terjadinya kelangkaan pangan sedini mungkin baik akibat pengaruh cuaca maupun permainan curang para spekulan.

Inilah cara Islam mengatasi problematika kenaikan harga kebutuhan pokok. Semua itu pernah dilakukan ketika tegaknya Islam lebih dari 13 abad lamanya. Sejatinya, hanyalah sistem islam yang mampu menyelesaikan semua problematika kehidupan. Yakni bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah yang berasal dari Allah SWT. Oleh karena itu marilah ubah kehidupan rusak ini dengan menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam bingkah Khilafah Islam. Wallahu a'lam Bisshawab.***

*) Penulis adalah anggota Komunitas Pena Bandung.

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.
TAGS:
Bagikan melalui:
Komentar
Berita Lainnya
220915145637-srate.jpeg
Srategi Islam dalam Mengelola Infrastruktur
220903130127-telur.jpg
Telur Meroket, Rakyat Tak Berdaya
Terkini
Headline
Terbanyak Dibaca
Pena Bandung TV
Populer Bulan Ini