Viral, Wanita Bercadar Pelihara Anjing, Bagaimana Hukumnya Menurut Islam?

  • HIKMAH
  • -
  • Selasa, 16 Maret 2021 | 10:14 WIB
210316101837-viral.jpeg

Foto: twitter/linetoday

Hesti Sutrisno dan anjing peliharaannya.

PENABANDUNG.COM - Hesti Sutrisno, wanita berusia 41 tahun adalah seorang perempuan bercadar yang mendedikasikan hidupnya untuk memelihara, menjaga, dan mengasuh anjing-anjing liar yang ditemui di jalan atau di manapun, dengan biaya sendiri, lahan sendiri dan propertinya sendiri.

Namun belakangan, sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) lokal yang mengaku mewakili warga setempat, tidak setuju dengan kegiatan Hesti dan akan mengusir anjing-anjing tersebut.

Hanya saja, mereka tidak dapat memberikan solusi terhadap anjing-anjing yang akan dilepaskan itu.

Lantas bagaimana hukum najis anjing dan hukum memelihara anjing dalam Islam?.

Menurut Ustadz Kholid Syamhudi Lc yang dikutip dari laman almanhaj.or.id, hukum najis dan memelihara anjing terjadi perbedaan pendapat.

“Adapun anjing, para Ulama terbagi atas tiga pendapat. Pertama; Bahwa anjing najis seluruhnya termasuk bulunya. Inilah pendapat Imam asy-Syâfi’i rahimahullah dan Ahmad rahimahullah . Kedua; Bahwa anjing adalah suci termasuk liurnya. Inilah pendapat yang masyhur (terkenal) dari Imam Mâlik rahimahullah. Ketiga; Bahwa air liurnya najis, dan bulunya adalah suci. Inilah madzhab yang masyhur dari Imam Abu Hanîfah rahimahullah , dan inilah riwayat yang didukung oleh mayoritas pengikutnya, dan inilah riwayat lain dari Ahmad rahimahullah. Inilah pendapat yang lebih kuat.” (Majmû’ al Fatâwâ, 5/51)

Anjing itu suci semuanya termasuk air liurnya

Ini adalah riwayat yang masyhur dari Imam Mâlik rahimahullah (lihat al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur`ân karya al-Qurthubi 13/45) dan ini juga satu riwayat dalam madzhab Hanabilah. (lihat al-Inshâf 1/310).

Diantara argunmentasi yang disampaikan adalah Firman Allah SWT,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Mereka menanyakan kepadamu, “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajari dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allâh kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allâh atas binatang buas itu (waktu melepaskannya) dan bertakwalah kepada Allâh, Sesungguhnya Allâh amat cepat hisab-Nya.” [Al-Mâidah/5:4].

Hal ini karena hewan buruan itu mesti terkena liur anjing, sehingga adanya penegasan tentang kehalalan (binatang buruan yang berhasil ditangkap oleh anjing itu-red) menunjukkan sucinya air liur anjing (yang menangkapnya-red). Apalagi tidak ada perintah untuk mencuci bagian yang tersentuh mulut anjing pada hewan buruan tersebut. [Lihat ‘Aridhatul Ahwadzi, Ibnul Arabi 1/35]

Seluruh bagian tubuh anjing sebagai najis.

Ini adalah pendapat madzhab Syâfi’iyah dan mayoritas Ulama madzhab Hanâbilah. Dalam fiqh empat mazhab al Jaziri disebutkan tentang penetapan kalangan Syâfi’iyah bahwa seluruh badan anjing adalah najis. [Fiqh ‘ala Mazhâhibil Arba’ah, 1/18]

Pendapat ini pula yang dipegang oleh sebagian besar Ulama kalangan Hanabilah. [Lihat al-Fiqh al-Islâmi wa ‘Adilatuhu,1/305, Mughni al-Muhtâj, 1/78, Kasy-syâf al-Qanna` 1/ 208, Al-Mughni 1/52]

Diantara argumen pendapat ini adalah hadits yaitu sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

Sucinya bejana salah seorang diantara kalian yang dijilat anjing adalah dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali dan yang pertama dengan tanah.” [Mutafaqqun ‘alaih].

Air liur anjing yang najis dan tubuhnya tidak najis.

Pendapat yang menghukumi bahwa yang najis dari anjing hanya air liurnya saja, sedangkan anggota tubuh lainnya suci. Ini adalah pendapat jumhûr (mayoritas) Ulama. [Lihat Fiqh ‘Ala Madzâhibil ‘Arba’ah, 1/18, Majmû’ al Fatâwâ, 5/51 dan lainnya]

Diantara argument pendapat ini adalah sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ.

"Sucinya bejana kamu yang dijilat anjing adalah dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali dan yang pertama dengan tanah.” [Mutafaqqun ‘alaih].

Hadits ini menunjukkan bejana menjadi najis dengan sebab air liur.

Hukum memelihara anjing

Memelihara anjing tanpa sebab dapat mengurangi pahala seseorang menurut Rasulullah SAW. Pernyataan tersebut diungkapkan dalam Hadis Riwayat Muslim, sebagai berikut:

وفي رواية لمسلم من اقتنى كلبا ليس بكلب صيد، ولا ماشية ولا أرض، فإنه ينقص من أجره قيراطان كل يوم.

“Dalam riwayat Muslim Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang memelihara anjing bukan anjing pemburu, penjaga ternak, atau penjaga kebun, maka pahalanya akan berkurang sebanyak dua qirath setiap hari””.

Menurut Iman Syafii, "Adapun memelihara anjing tanpa hajat tertentu dalam madzhab kami adalah haram. Sedangkan memeliharanya untuk berburu, menjaga tanaman, atau menjaga ternak, boleh. Sementara ulama kami berbeda pendapat perihal memelihara anjing untuk jaga rumah, gerbang, atau lainnya." ***

Penulis/Pewarta: Muhamad Basuki
Editor: Asep el-Abbas
©2021 PENABANDUNG.COM

TAGS:
Bagikan melalui:
Komentar
Berita Lainnya
Terkini
Headline
Terbanyak Dibaca
Pena Bandung TV
Populer Bulan Ini