Mengenang Wafatnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

  • HIKMAH
  • -
  • Sabtu, 26 Desember 2020 | 12:34 WIB
201226123826-menge.jpg

KETIKA Syekh Abdul Qadir al-Jailani sakit menjelang wafat, putranya yang bernama Abdul Wahab meminta wasiat kepadanya. Beliau mengatakan, "Nak, engkau harus bertakwa dan taat kepada Allah swt. Jangan takut dan berharap kepada siapapun. Semua kebutuhan harus dikembalikan kepada Allah swt. Mintalah yang kau butuhkan kepada-Nya. Janganlah mempercayai selain Allah swt. Jangan bersandar, kecuali kepada-Nya. Tauhid! Tauhid! Tauhid!. Kesatuan dari semua nasihat itu adalah Tauhid.

Sang syekh juga berkata, "Jika telah saleh bersama Allah swt. ia tidak akan kosong dari sesuatu pun dan tak akan ada apapun yang keluar darinya. Aku adalah isi tanpa kulit." Dalam kesempatan lain, beliau juga menasehati anak-anaknya, "Menjauhlah dari sekitarku. Aku bersama kalian secara lahir, tetapi bersama orang lain secara batin. Jarak antara diriku, kalian, dan makhluk sejauh jarak antara langit dan bumi. Jangan kalian bandingkan aku dengan orang lain, jangan pula kalian samakan orang lain dengan diriku!".

Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata, "Selain kalian telah mendatangiku. Lapangkanlah tempat untuk mereka. Bersikaplah sopan bersama mereka. Di sini adalah rahmat yang agung. Jangan menyempitkan tempat bagi mereka." Sebagian anaknya mengabarkan bahwa beliau berkata, "Kalian harus mengucapkan Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh (salam sejahtera bagi kalian dan kasih sayang Tuhan beserta karunia-Nya). Semoga Allah mengampuni dosaku dan dosa kalian. Semoga Allah menutupiku dan diri kalian dengan pertobatan."

Tatkala ajal semakin dekat, siang dan malam Sang Syekh melafalkan "Bismillah" (dengan nama Allah) tanpa henti. Kemudian beliau berujar, "Aku tidak memedulikan sesuatu pun. Aku pun tak peduli pada malaikat walaupun itu Malaikat Maut. Wahai Malaikat Maut, menjauhlah dari kami! Yang melindungi kami adalah selainmu!" Saat itu beliau berteriak kencang, kemudian wafat pada malam harinya.

Salah seorang anaknya bertanya tentang sesuatu yang ditemukannya, dia menjawab, "Jangan ada seorang pun yang bertanya kepadaku tentang sesuatu itu. Aku sedang mengigau. Aku sedang berubah-ubah dalam ilmu Allah swt." Kepada anaknya yang bernama Abdul Jabbar beliau memberi wejangan, "Kamu tertidur atau terjaga? Matilah bersamaku karena kalian telah terjaga." Lalu aku pun mendatanginya, sedangkan sekelompok anaknya sedang berkerumun di hadapannya. Ketika salah seorang anaknya yang bernama Abdul Aziz hendak menulis ucapannya, beliau berkata, "Berikanlah kepada orang suci untuk menulis." Maka aku mengambil pena itu dan menulis,

"Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." (QS. ath-Thalaq[65]:7)

Selusurilah kaba-kabar tentang sifat-sifat yang telah datang. Hukum dapat berubah, tetapi ilmu tidak bisa berubah. Hukum memungkinkan untuk diabrogasi tetapi ilmu tidak. Ilmu Allah tidak dapat dibatalkan oleh hukum-Nya.

Aku (Muhammad Dhiyauddin bin Sayyid Ali al-Jazari al-Qadiri) memperoleh cerita dari putra Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang bernama Abdurrazzaq dan Musa bahwa beliau mengangkat tangan lantas menjulurkannya sembari mengatakan, "Kalian harus mengucapkan 'Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh' (salam sejahtera bagi kalian dan kasih sayang Tuhan beserta karunia-Nya). Bertobatlah kepada Allah. Masuklah kedalam barisan-Nya tatkala Dia mendatangi kalian. Lembutlah ... lembutlah ..." Kemudian Allah mendatangkan sakratulmaut kepadanya.

Sebelumnya beliau berkata, "Aku telah meminta pertolongan kepada Dzat yang,

Tiada Tuhan selain Allah, Yang Mahahidup dan Berdiri Tegak, tidak akan mati dan tidak takut tertinggal, Mahasuci Allah yang Mahamulia dengan segala kemampuan dan paksaan kepada hamba-Nya dengan kematian. Tiada Tuhan selain Allah. Muhammad adalah utusan Allah.

Aku juga mendapat kabar dari putra Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang bernama Musa, ketika beliau mengucapkan "ta'azzaza" mulutnya tak sanggup melafalkannya dengan lantang dan benar. Kemudia beliau menyebut "Allah, Allah, Allah!" lantas suaranya melirih. Lidahnya menempel di langit--langit mulutnya. Tak lama kemudian beliau meninggal dunia.

Semoga Allah swt. meridhainya, dan menempatkannya di tempat yang benar di sisi Tuhan yang Maha Berkuasa dan Maha Menentukan takdiq. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam untuk pemimpin para nabi, pendahulu para pemberi syafaat, Nabi Muhammad saw. Dia adalah sebaik-baik manusia. Semoga shalawat selalu terlimpah untuknya beserta keluarganya dan seluruh sahabatnya.

Naskah penuh berkah ini selesai ditulis oleh tangan seorang hamba yang lemah, fakir, dan hina, yakni Sayyid Muhammad Dhiyauddin bin Sayyid Ali al-Jazari al-Qadiri, di Baghdad. Semoga Allah mengasihinya. Sang penulisa mempunyai nasab yang bersambung hingga Nabi Muhammad saw. Naskah ini selesai ditulis atas pertolongan Allah Yang Mahakuasa dan Maha Memberi pada hari Senin di bulan Safar.

(Dikutip dari terjemah kitab Fathur Rabbani)

Penulis/Pewarta: Muhamad Basuki
Editor: Muhamad Basuki
©2020 PENABANDUNG.COM

TAGS:
Bagikan melalui:
Komentar
Berita Lainnya
Terkini
Headline
Terbanyak Dibaca
Pena Bandung TV
Populer Bulan Ini