Mengenang Wafatnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

foto

Ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani sakit menjelang wafat, putranya yang bernama Abdul Wahab meminta wasiat kepadanya. Beliau mengatakan, "Nak, engkau harus bertakwa dan taat kepada Allah swt. Jangan takut dan berharap kepada siapapun. Semua kebutuhan harus dikembalikan kepada Allah swt. Mintalah yang kau buthkan kepada-Nya. Janganlah mempercayai selain Allah swt. Jangan bersandar, kecuali kepadan-Nya. Tauhid! Tauhid! Tauhid!. Kesatuan dari semua nasihat itu adalah tauhid.

Sang syekh juga berkata, "JIka telah saleh bersama Allah swt. ia tidak akan kosong dari sesuatu pun dan tak akan ada apapun yang keluar darinya. Aku adalah isi tanpa kulit." Dalam kesempatan lain, beliau juga menasehati anak-anaknya, "Menjauhlah dari sekitarku. Aku bersama kalian secara lahir, tetapi bersama orang lain secara batin. Jarak antara diriku, kalian, dan makhluk sejauh jarak anatara langit dan bumi. Jangan kalian bandingkan aku dengan orang lain, jangan pula kalian samakan orang lain dengan diriku!".

Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata, "Selain kalian telah mendatangiku. Lapangkanlah tempat untuk mereka. Bersikaplah sopan bersama mereka. Di sini adalah rahmat yang agung. Jangan menyempitkan tempat bagi mereka." Sebagian anaknya mengabarkan bahwa beliau berkata, "Kalian harus mengucapkan Assalmu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh (salam sejahtera nbagi kalian dan ksih sanyang Tuhan beserta karuania-Nya). Semoga Allah mengampuni dosaku dan dosa kalian. Semoga Allah menutupiku dan diri kalian dengan pertobatan."

Tatkala ajal semakin dekat, siang dan malam Sang Syekh merapalkan "Bismillah" (dengan nama Allah) tanpa henti. Kemudian beliau berujar, "Aku tidak memedulikan sesuatu pun. Aku pun tak peduli pada malaikat walaupun itu Malaikat Maut. Wahai Malaikat Maut, menjauhlah dari kami! Yang melindungi kami adalah selainmu!" Saat itu beliau berteriak kencang, kemudian wafat pada malam harinya.

Salah seorang anaknya bertanya tentang sesuatu yang ditemukannya, dia menjawab, "Jangan ada seorang pun yang bertanya kepadaku tentang sesuatu itu. Aku sedang mengigau. Aku sedang berubah-ubah dalam ilmu Allah swt." Kepada anaknya yang bernama Abdul Jabbar beliau memberi wejangan, "Kamu tertidur atau terjaga? Matilah bersamaku karena kalian telah terjaga." Lalu aku pun mendatanginya, sedangkan sekelompok anaknya sedang berkerumun di hadapannya. Ketika salah seorang anaknya yang bernama Abdul Aziz hendak menulis ucapannya, beliau berkata, "Berikanlah kepada orang suci untuk menulis." Maka aku mengambil pena itu dan menulis,


"Allah kelak akan memberikann kelapangan sesudah kesempitan." (QS. ath-Thalaq[65]:7)

Bersambung

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Tabayyunlah, Karena Dia Bagian dari Takwa